![]() |
| Ihor Malytskyi on Unsplash |
Terus terang pertanyaan itu masih kerap menggema dibenakku. Dan percayalah
tidak ada yang jauh lebih melelahkan dibandingkan ketika kamu selalu
mengisolasi dirimu dan membiarkan pikiranmu terus menerus dihantui segala
pertanyaan yang kerap menuntut jawaban-jawabannya. Pun sebagai catatan, kendali
diri tidak selalu menuruti navigasimu. Sehingga sebagai hasil, kamu tidak
selalu bisa mengelak apa yang dirimu sedang ingin lakukan.
Namun beruntung, aku tidak membiarkan hal itu menguasaiku seumur hidup.
Tentu dengan memakan waktu dan proses, aku berangsur mengendalikan kerumitan itu.
Dan semua tentu harus aku mulai dengan meluluhkan pikiranku. Sebab dari sanalah
pergerakan demi pergerakan melancarkan aksinya.
Seperti yang kujelaskan di awal,
nyaris sepenuhnya realita aku ciptakan hanya lewat interpretasiku terhadap apa yang kudengar, yang kutonton, dan yang kubaca. Setiap kali aku
selesai melakukannya, konten-konten itu melahirkan wujud-wujudnya dan memberiku
gambaran-gambaran yang jauh lebih nyata. Mereka bergerak bebas sesuai kendali khayalku. Disanalah mereka mendapat ruang dan hanya aku yang dapat
menyaksikannya. Saat hal itu terjadi saat itu jugalah pikiranku bekerja lebih
keras dari biasanya sebab ia terus menerus menciptakan realita demi realita
fiktif yang tidak pernah benar-benar nyata. Dengan demikian, hal itu sama saja
seperti aku baru saja menyalin berkas yang kemudian aku sunting dan lahirlah
berkas baru yang serupa namun tak sama.
Lama kelamaan, kurasakan hal itu rupanya menjadi sebab utama aku menutup
diri. Kurasakan apa yang sedang bergerak di dalam pikiranku jauh bisa lebih
kupercaya serta kukendalikan sesuka hatiku ketimbang di dunia nyata dimana aku
tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan benar-benar ditampilkan serta apakah
aku mendapatkan keuntungan atau kepuasan atau justru kesialan serta penyesalan.
Kudapati diriku dihantui oleh ketakutan terbesar itu. Tetapi aku sadar
menyimpan apalagi memeliharanya hanya akan membuatku berangsur gila. Tentu aku
tidak ingin hidupku berakhir memilukan seperti itu.
Saat aku mulai memasuki usia 20-an, perlahan namun pasti kuciptakan
keberanian itu. Keberanian untuk melumpuhkan kebiasaanku hidup hanya di dalam
pikiranku. Kurasakan kehadiran orang-orang di sekitarku memberiku sedikit rasa
aman dan nyaman meski selalu pastinya diawali perasaan amat takut. Takut
kalau mereka akan menyakitiku-meski terkadang aku tidak tahu persis bentuk rasa sakit seperti apa yang
berpotensi kualami-atau kehadiranku
tidak diterima oleh mereka. Jika kamu pernah merasa atau memang kamu adalah
orang yang sama sepertiku, kamu pasti tahu bagaimana gelisahnya berada di dekat
orang-orang asing itu. Pikiranku membiarkan aku percaya kalau dunia nyata itu
akan selalu menakutkan dan berbahaya. Itu caranya agar aku tidak meninggalkan
imajinasi-imajinasiku selama ini. Tetapi aku bersikeras untuk tidak selalu
ingin menuruti kehendaknya. Ini langkahku untuk membuktikan bahwa pikiranku
juga bisa salah. Dan jika memang itu terbukti, aku lantas telah berhasil
menyelamatkan diriku sendiri. Terlebih tanpa bantuan dari siapapun. Hanya
mengandalkan nekad dan keyakinan seadanya bahwa realita tidak selalu mesti
diciptakan oleh pikiran tetapi juga aksi yang nyata.
Sehingga pada akhirnya melegakan rasanya ketika aku hampir dapat selalu membuktikan
bahwa realita membuktikan prasangkaku salah.

Komentar
Posting Komentar