Langsung ke konten utama

Ihwal Akal

Ihor Malytskyi on Unsplash
    Untuk orang sepertiku, realita nyaris sukar kukecap. Entah sejak kapan segalanya bermuara. Kudapati kehidupanku hanya bergerak di dalam pikiran-pikiranku yang rumit. Suatu waktu aku merasa aku mampu mengetahui segalanya tanpa mesti aku mengalaminya. Baik benak maupun firasatku mengukuhkan hal itu. Padahal jika aku telusuri lebih dalam, obyek pengamatanku hanyalah sebatas produk fiktif (musik, film, dan buku red). Dari sana interpretasiku terhadap realita dibentuk. Tetapi, pertanyaanku, bukankah hampir banyak orang lain di luar sana pun melakukan hal yang sama sepertiku? Cukupkah hanya dengan produk fiktif itu hidupku menjadi sangat utuh tanpa pernah sedikitpun aku berusaha mencicipi hal-hal di dunia nyata?
Terus terang pertanyaan itu masih kerap menggema dibenakku. Dan percayalah tidak ada yang jauh lebih melelahkan dibandingkan ketika kamu selalu mengisolasi dirimu dan membiarkan pikiranmu terus menerus dihantui segala pertanyaan yang kerap menuntut jawaban-jawabannya. Pun sebagai catatan, kendali diri tidak selalu menuruti navigasimu. Sehingga sebagai hasil, kamu tidak selalu bisa mengelak apa yang dirimu sedang ingin lakukan.
Namun beruntung, aku tidak membiarkan hal itu menguasaiku seumur hidup. Tentu dengan memakan waktu dan proses, aku berangsur mengendalikan kerumitan itu. Dan semua tentu harus aku mulai dengan meluluhkan pikiranku. Sebab dari sanalah pergerakan demi pergerakan melancarkan aksinya.
 Seperti yang kujelaskan di awal, nyaris sepenuhnya realita aku ciptakan hanya lewat interpretasiku terhadap apa yang kudengar, yang kutonton, dan yang kubaca. Setiap kali aku selesai melakukannya, konten-konten itu melahirkan wujud-wujudnya dan memberiku gambaran-gambaran yang jauh lebih nyata. Mereka bergerak bebas sesuai kendali khayalku. Disanalah mereka mendapat ruang dan hanya aku yang dapat menyaksikannya. Saat hal itu terjadi saat itu jugalah pikiranku bekerja lebih keras dari biasanya sebab ia terus menerus menciptakan realita demi realita fiktif yang tidak pernah benar-benar nyata. Dengan demikian, hal itu sama saja seperti aku baru saja menyalin berkas yang kemudian aku sunting dan lahirlah berkas baru yang serupa namun tak sama.
Lama kelamaan, kurasakan hal itu rupanya menjadi sebab utama aku menutup diri. Kurasakan apa yang sedang bergerak di dalam pikiranku jauh bisa lebih kupercaya serta kukendalikan sesuka hatiku ketimbang di dunia nyata dimana aku tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan benar-benar ditampilkan serta apakah aku mendapatkan keuntungan atau kepuasan atau justru kesialan serta penyesalan. Kudapati diriku dihantui oleh ketakutan terbesar itu. Tetapi aku sadar menyimpan apalagi memeliharanya hanya akan membuatku berangsur gila. Tentu aku tidak ingin hidupku berakhir memilukan seperti itu.
Saat aku mulai memasuki usia 20-an, perlahan namun pasti kuciptakan keberanian itu. Keberanian untuk melumpuhkan kebiasaanku hidup hanya di dalam pikiranku. Kurasakan kehadiran orang-orang di sekitarku memberiku sedikit rasa aman dan nyaman meski selalu pastinya diawali perasaan amat takut. Takut kalau mereka akan menyakitikumeski terkadang aku tidak tahu persis bentuk rasa sakit seperti apa yang berpotensi kualamiatau kehadiranku tidak diterima oleh mereka. Jika kamu pernah merasa atau memang kamu adalah orang yang sama sepertiku, kamu pasti tahu bagaimana gelisahnya berada di dekat orang-orang asing itu. Pikiranku membiarkan aku percaya kalau dunia nyata itu akan selalu menakutkan dan berbahaya. Itu caranya agar aku tidak meninggalkan imajinasi-imajinasiku selama ini. Tetapi aku bersikeras untuk tidak selalu ingin menuruti kehendaknya. Ini langkahku untuk membuktikan bahwa pikiranku juga bisa salah. Dan jika memang itu terbukti, aku lantas telah berhasil menyelamatkan diriku sendiri. Terlebih tanpa bantuan dari siapapun. Hanya mengandalkan nekad dan keyakinan seadanya bahwa realita tidak selalu mesti diciptakan oleh pikiran tetapi juga aksi yang nyata.
Sehingga pada akhirnya melegakan rasanya ketika aku hampir dapat selalu membuktikan bahwa realita membuktikan prasangkaku salah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi: Maha Besar Semesta

  Henry & Co . on Unsplash tak ayal lagi beberapa cangkir kopi yang ia sesap sepanjang hari membuatnya terjaga tak ada yang sudi ia lewatkan lelah untuknya hanyalah untuk yang lemah ia kerap menampik pasrah sebab keresahan baginya adalah alasan untuk terus menjelajah ia sadar bahwa kawan bisa menjadi lawan suatu hukum alam yang tidak dapat dinafikan oleh sebabnya akalnya yang kekar acap menawannya dari getirnya sesal dan begitulah ia diselamatkan pencarian adalah tambat hidupnya di bentala kilah untuk terus berlanglang meski tak semua haluan memberikan jawaban maha besar semesta manawan namun fana

Puisi: Tatkala Lengang

Sasha Freemind on Unsplash tatkala lengang di sini ia berdiam diam-diam mengintai yang sukar digapai memudar perlahan menyusut seiring mendekat melumpuhkan rasa riang tatkala lengang di sini ia ditinggalkan dan berujung usang

Puisi: Singgah Belaka

Jr Korpa on Unsplash kala kelengangan sudah biasa. mengusir sepi sudah bukan angan-angan sekonyong-konyong berlabuh pelipur lara. kureguk kehadirannya tak ayal lagi malapetaka. namun jiwaku yang kosong mantap merengkuhnya. layuh aku tanpanya. kini sempurna ia bertolak. gentas tak menyisakan jejak.