Langsung ke konten utama

Urung Hirau

Peristiwa demi peristiwa tak pernah tampak begitu kebetulan. Selalu saja ada secuil hal yang terus akan melempar kita kembali ke masa yang sukar bagi kita untuk berdamai.
Takkan pernah mudah memang mewujudkan kata-kata menjadi sebuah aksi. “Berdamai dengan masa lalu”. Omong kosong. Tidakkah kita tahu betapa sulitnya itu untuk dilakukan? Bahkan ketika kita tidak betul-betul mengikat kuat diri kita dengan seseorang ataupun sesuatu. Tetap saja kita tidak bisa selalu berpikir bahwa kita bisa mengendalikan diri kita dari segala yang pernah singgah. Lama maupun sementara.
Kemudian kita merasa kita mempunyai pilihan yakni dengan melibatkan orang lain. Sungguh? Apa yang terbesit di kepala kita saat kita mencari sosok yang kuat demi melindungi kita? Tidakkah yang kuat pun pernah rapuh? Apa kita begitu yakin meminta pertolongan pada yang kala rapuh yang kini mendadak menjadi tangguh? Pernahkah kita menelusurinya terlebih dahulu? Tidakkah seringkali kita hanya berlaku egois dengan menyajikan masalah kita pada orang lain sementara kita tidak pernah benar-benar peduli untuk mengetahui terlebih dahulu apakah orang itu baik-baik saja? Mustahil. Bisakah rasa sakit yang sedang kita rasakan itu tiba-tiba kita jeda?
Tidak. Sungguh kita selama ini telah lalai untuk mengindahkannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi: Maha Besar Semesta

  Henry & Co . on Unsplash tak ayal lagi beberapa cangkir kopi yang ia sesap sepanjang hari membuatnya terjaga tak ada yang sudi ia lewatkan lelah untuknya hanyalah untuk yang lemah ia kerap menampik pasrah sebab keresahan baginya adalah alasan untuk terus menjelajah ia sadar bahwa kawan bisa menjadi lawan suatu hukum alam yang tidak dapat dinafikan oleh sebabnya akalnya yang kekar acap menawannya dari getirnya sesal dan begitulah ia diselamatkan pencarian adalah tambat hidupnya di bentala kilah untuk terus berlanglang meski tak semua haluan memberikan jawaban maha besar semesta manawan namun fana

Puisi: Singgah Belaka

Jr Korpa on Unsplash kala kelengangan sudah biasa. mengusir sepi sudah bukan angan-angan sekonyong-konyong berlabuh pelipur lara. kureguk kehadirannya tak ayal lagi malapetaka. namun jiwaku yang kosong mantap merengkuhnya. layuh aku tanpanya. kini sempurna ia bertolak. gentas tak menyisakan jejak.

Ihwal Akal

Ihor Malytskyi on Unsplash     Untuk orang sepertiku, realita nyaris sukar kukecap. Entah sejak kapan segalanya bermuara. Kudapati kehidupanku hanya bergerak di dalam pikiran-pikiranku yang rumit. Suatu waktu aku merasa aku mampu mengetahui segalanya tanpa mesti aku mengalaminya. Baik benak maupun firasatku mengukuhkan hal itu. Padahal jika aku telusuri lebih dalam, obyek pengamatanku hanyalah sebatas produk fiktif (musik, film, dan buku  ‒ red ) . Dari sana interpretasiku terhadap realita dibentuk. Tetapi, pertanyaanku, bukankah hampir banyak orang lain di luar sana pun melakukan hal yang sama sepertiku? Cukupkah hanya dengan produk fiktif itu hidupku menjadi sangat utuh tanpa pernah sedikitpun aku berusaha mencicipi hal-hal di dunia nyata? Terus terang pertanyaan itu masih kerap menggema dibenakku. Dan percayalah tidak ada yang jauh lebih melelahkan dibandingkan ketika kamu selalu mengisolasi dirimu dan membiarkan pikiranmu terus menerus dihantui segala pertan...