Langsung ke konten utama

Puisi: Leka

Andrik Langfield on Unsplash
senja dinanti
diriku diharapkannya
tentang waktu
semua 'kan berjalan
sesuai angannya
tatkala hembusan angin
mengindahkannya
kesadarannya lalai meraih

langkah yang tak kunjung dipijak
membuatnya kaku
masih diharapakannya diriku
lamunannya kuat
menguasainya

mentari memamitkannya
digantikannya oleh bulan
memandangnya sebagai kabar baru
tak satupun saling menghiraukan
seolah saling berseteru

namun satu yang tetap tinggal
menyaksikan kecanggungan itu
sepoi angin
silir-semilir
yang tak diindahkannya
yang lalai diraihnya

secarik kertas tertulis pesanku
untuknya agar berhenti menunggu
angin yang setia menemaninya
membantuku menyampaikannya

baru saat itu ia tahu
ia pun dinanti
oleh angin
yang tak diindahkannya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi: Maha Besar Semesta

  Henry & Co . on Unsplash tak ayal lagi beberapa cangkir kopi yang ia sesap sepanjang hari membuatnya terjaga tak ada yang sudi ia lewatkan lelah untuknya hanyalah untuk yang lemah ia kerap menampik pasrah sebab keresahan baginya adalah alasan untuk terus menjelajah ia sadar bahwa kawan bisa menjadi lawan suatu hukum alam yang tidak dapat dinafikan oleh sebabnya akalnya yang kekar acap menawannya dari getirnya sesal dan begitulah ia diselamatkan pencarian adalah tambat hidupnya di bentala kilah untuk terus berlanglang meski tak semua haluan memberikan jawaban maha besar semesta manawan namun fana

Puisi: Singgah Belaka

Jr Korpa on Unsplash kala kelengangan sudah biasa. mengusir sepi sudah bukan angan-angan sekonyong-konyong berlabuh pelipur lara. kureguk kehadirannya tak ayal lagi malapetaka. namun jiwaku yang kosong mantap merengkuhnya. layuh aku tanpanya. kini sempurna ia bertolak. gentas tak menyisakan jejak.

Ihwal Akal

Ihor Malytskyi on Unsplash     Untuk orang sepertiku, realita nyaris sukar kukecap. Entah sejak kapan segalanya bermuara. Kudapati kehidupanku hanya bergerak di dalam pikiran-pikiranku yang rumit. Suatu waktu aku merasa aku mampu mengetahui segalanya tanpa mesti aku mengalaminya. Baik benak maupun firasatku mengukuhkan hal itu. Padahal jika aku telusuri lebih dalam, obyek pengamatanku hanyalah sebatas produk fiktif (musik, film, dan buku  ‒ red ) . Dari sana interpretasiku terhadap realita dibentuk. Tetapi, pertanyaanku, bukankah hampir banyak orang lain di luar sana pun melakukan hal yang sama sepertiku? Cukupkah hanya dengan produk fiktif itu hidupku menjadi sangat utuh tanpa pernah sedikitpun aku berusaha mencicipi hal-hal di dunia nyata? Terus terang pertanyaan itu masih kerap menggema dibenakku. Dan percayalah tidak ada yang jauh lebih melelahkan dibandingkan ketika kamu selalu mengisolasi dirimu dan membiarkan pikiranmu terus menerus dihantui segala pertan...