Langsung ke konten utama

Puisi: Ihwal Hayat

Guilherme Romano on Unsplash
kehidupan berubah perlahan namun tak selalu pasti 
menyapu setiap jejak agar sukar dikenang dan didiami oleh mereka yang urung beranjak

kehidupan punya caranya sendiri
tidak terikat namun mengikat
membentangkan seutas tali yang panjangnya tak terhingga dan ujungnya tak teraba
ia amat tipis dan kendur
alhasil sukar digenggam

kehidupan dan waktu berjalan beriring-iringan
nyaris tanpa ada jarak dan batas
menciptakan linimasa bagi manusia
keduanya berdikari
jauh dari navigasi manusia

kehidupan amatlah muskil
kerapkali namun tak selalu mengurungkan pelbagai rencana 
kadang kala terbesit
apakah hayat ini raga belaka
lengang dan lasa
ihwal akal rupanya lengkara

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi: Maha Besar Semesta

  Henry & Co . on Unsplash tak ayal lagi beberapa cangkir kopi yang ia sesap sepanjang hari membuatnya terjaga tak ada yang sudi ia lewatkan lelah untuknya hanyalah untuk yang lemah ia kerap menampik pasrah sebab keresahan baginya adalah alasan untuk terus menjelajah ia sadar bahwa kawan bisa menjadi lawan suatu hukum alam yang tidak dapat dinafikan oleh sebabnya akalnya yang kekar acap menawannya dari getirnya sesal dan begitulah ia diselamatkan pencarian adalah tambat hidupnya di bentala kilah untuk terus berlanglang meski tak semua haluan memberikan jawaban maha besar semesta manawan namun fana

Puisi: Singgah Belaka

Jr Korpa on Unsplash kala kelengangan sudah biasa. mengusir sepi sudah bukan angan-angan sekonyong-konyong berlabuh pelipur lara. kureguk kehadirannya tak ayal lagi malapetaka. namun jiwaku yang kosong mantap merengkuhnya. layuh aku tanpanya. kini sempurna ia bertolak. gentas tak menyisakan jejak.

Ihwal Akal

Ihor Malytskyi on Unsplash     Untuk orang sepertiku, realita nyaris sukar kukecap. Entah sejak kapan segalanya bermuara. Kudapati kehidupanku hanya bergerak di dalam pikiran-pikiranku yang rumit. Suatu waktu aku merasa aku mampu mengetahui segalanya tanpa mesti aku mengalaminya. Baik benak maupun firasatku mengukuhkan hal itu. Padahal jika aku telusuri lebih dalam, obyek pengamatanku hanyalah sebatas produk fiktif (musik, film, dan buku  ‒ red ) . Dari sana interpretasiku terhadap realita dibentuk. Tetapi, pertanyaanku, bukankah hampir banyak orang lain di luar sana pun melakukan hal yang sama sepertiku? Cukupkah hanya dengan produk fiktif itu hidupku menjadi sangat utuh tanpa pernah sedikitpun aku berusaha mencicipi hal-hal di dunia nyata? Terus terang pertanyaan itu masih kerap menggema dibenakku. Dan percayalah tidak ada yang jauh lebih melelahkan dibandingkan ketika kamu selalu mengisolasi dirimu dan membiarkan pikiranmu terus menerus dihantui segala pertan...